Romo Nobert Antonius Shadeg, SVD lahir di Minnesota , Amerika Serikat pada 10 Desember 1921. Anak ke-10 dari 14 bersaudara keluarga pasutri Henry-Rosa Shadeg ini sejak kecil memang bercita-cita menjadi pastor. Dalam usia 21 tahun lantas mendaftar masuk Novisiat SVD -- salah satu ordo -- di Techny , Illinois , AS. Setelah ditahbiskan jadi imam, bersama 13 rekannya Shadeg diutus ke Indonesia . Shadeg akhirnya menjejakkan kaki di Bali pada 20 Juli 1950 setelah menyinggahi Ujungpandang dan Flores .
Selain berperan sebagai seorang pastor dengan melayani umat Katolik di sejumlah paroki di Bali , Romo Shadeg juga punya perhatian besar pada dunia pendidikan dan masalah kebudayaan. Sempat jadi guru basaha Inggris di Singaraja, yang saat itu menjadi ibu kota Propinsi Sunda Kecil. Sejak mengajar itulah, dia tertarik untuk lebih intens mempelajari bahasa Bali , sesuatu yang kemudian membuatnya terkenal. Bahasa Bali ditekuninya, mulai dari penuturan sehari-hari sampai bahasa halus.
Tiap hari ada saja kata-kata dalam bahasa Bali yang dicatatnya. Lalu dicari padanan artinya dalam bahasa Inggris dan Indonesia . Jadilah kamus kecil yang sederhana. Kamus ini selain dipakai sendiri juga untuk sesama rekan imam yang kebetulan juga berprofesi sebagai pengajar. Dia menyadari bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi dengan siswa, sesama guru dan masyarakat sekitar; yang tentu saja seluruhnya orang Bali . Belakangan lahirlah kamus yang disusun Romo Shadeg. ''A Basic Balinese Vocabubalary'' dan ''Bali Pocket Dictionary''.
Di tengah rutinitas pastoralnya, dia sempat melanjutkan pendidikan di Loyola University , Chicago , AS. Tahun 1960 gelar Master of Art (MA) berhasil digondolnya dengan tesis ''The Educational Philosophy of Ki Hadjar Dewantoro and Its Influence ini Indonesia Life''. Minatnya yang besar di bidang budaya menyeretnya berkenalan dengan Dr. Rudolf Goris, ahli sejarah kuno dan kebudayaan Bali yang sempat jadi dosen Sastra Unud. Berbagai karya Goris yang asal Belanda ini sampai sekarang masih menjadi referensi para ahli ketika ingin menulis tentang Bali .
Karya-karya Dr. Goris masih bisa dibaca di Widya Wahana, perpustakaan milik Romo Shadeg di Tuka, Dalung. Di perpustakaan yang diresmikan 2 Mei 1981 itu bisa ditemukan berbagai koleksi buku yang kini jumlahnya tak kurang dari 200.000 buah. Sambil menikmati ''buah karya''-nya di perpustakaan Widya Wahana, kita bisa bertegur sapa dengan Romo Shadeg. Sayangnya, sejak jatuh tahun 1998 kesehatannya terus menurun. Kini, sebagian besar waktu pastor berusia 83 tahun ini dihabiskan untuk istirahat di tempat tidur karena sakit......
Raja Gugup raja minyak dari tanah abang suka gugup sendiri kalo bersinggungan dengan hal yang sensitif: contohnya kesenggol penggorengan panas, nyedot rokok nyalanya kebalik, dot meju sing ade wese...
salam buat Pak Theo ya :D
Selain berperan sebagai seorang pastor dengan melayani umat Katolik di sejumlah paroki di Bali , Romo Shadeg juga punya perhatian besar pada dunia pendidikan dan masalah kebudayaan. Sempat jadi guru basaha Inggris di Singaraja, yang saat itu menjadi ibu kota Propinsi Sunda Kecil. Sejak mengajar itulah, dia tertarik untuk lebih intens mempelajari bahasa Bali , sesuatu yang kemudian membuatnya terkenal. Bahasa Bali ditekuninya, mulai dari penuturan sehari-hari sampai bahasa halus.
Tiap hari ada saja kata-kata dalam bahasa Bali yang dicatatnya. Lalu dicari padanan artinya dalam bahasa Inggris dan Indonesia . Jadilah kamus kecil yang sederhana. Kamus ini selain dipakai sendiri juga untuk sesama rekan imam yang kebetulan juga berprofesi sebagai pengajar. Dia menyadari bahasa sangat penting sebagai alat komunikasi dengan siswa, sesama guru dan masyarakat sekitar; yang tentu saja seluruhnya orang Bali . Belakangan lahirlah kamus yang disusun Romo Shadeg. ''A Basic Balinese Vocabubalary'' dan ''Bali Pocket Dictionary''.
Di tengah rutinitas pastoralnya, dia sempat melanjutkan pendidikan di Loyola University , Chicago , AS. Tahun 1960 gelar Master of Art (MA) berhasil digondolnya dengan tesis ''The Educational Philosophy of Ki Hadjar Dewantoro and Its Influence ini Indonesia Life''. Minatnya yang besar di bidang budaya menyeretnya berkenalan dengan Dr. Rudolf Goris, ahli sejarah kuno dan kebudayaan Bali yang sempat jadi dosen Sastra Unud. Berbagai karya Goris yang asal Belanda ini sampai sekarang masih menjadi referensi para ahli ketika ingin menulis tentang Bali .
Karya-karya Dr. Goris masih bisa dibaca di Widya Wahana, perpustakaan milik Romo Shadeg di Tuka, Dalung. Di perpustakaan yang diresmikan 2 Mei 1981 itu bisa ditemukan berbagai koleksi buku yang kini jumlahnya tak kurang dari 200.000 buah. Sambil menikmati ''buah karya''-nya di perpustakaan Widya Wahana, kita bisa bertegur sapa dengan Romo Shadeg. Sayangnya, sejak jatuh tahun 1998 kesehatannya terus menurun. Kini, sebagian besar waktu pastor berusia 83 tahun ini dihabiskan untuk istirahat di tempat tidur karena sakit......
Tabung janin anda segera di bank Napi.
Dengan Bunga beraneka ragam (tidak termasuk tangkai).
Abang gw?
enten napi Bang?
Looks so real... Acting-nya hebat!
Ntar makin dewasa, tas bawaannya pasti bakal tambah gede tuh, ;)